Senin, 26 September 2011

Pemasaran Untuk Ternak Kambing

Biasanya, kambing potong dipasarkan bersamaan dengan domba, bahkan dengan sapi di pasar hewan. Daging asal ruminansia kecil ini mempunyai pasar yang sangat spesifik, tetapi membutuhkan jumlah ternak yang tidak sedikit. Pasar bagi daging dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu pasar tradisional bagi masyarakat perdesaan dan sebagian masyarakat kota serta pasar khusus bagi masyarakat kota. Kedua jenia konsumen daging kambing ini memiliki karakteristik yang berbeda.
Konsumen masyarakat kota lebih memperhatikan masalah kesehatan hewan (daging), cara penanganan, dan pembagian jenis daging. Sementara, konsumen dari pasar tradisional tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
Di pasar tradisional, daging kambing dibeli pedagang dari peternak yang kemudian dipotong di rumah pemotongan hewan atau dipotong sendiri. Penjualan daging ini dilakukan di pasar umum. Masyarakat kota umumnya membeli hewan (daging) dari pedagang daging yang telah disertifikasi. Daging dipotong di rumah pemotongan hewan dan dijual di supermarket atau di toko khusus yang menjual daging. Sementara di hotel dan restoran, selain membeli dari supermarket, pengelolanya juga membeli dari pemasok yang khusus mengantarkan daging ke restoran sesuai dengan pesanan.
Tingkat permintaan daging kambing tidak terlalu fluktuatif sepanjang tahun. Namun, permintaan akan meningkat dengan cepat pada saat Hari Raya Idul Adha. Pada hari raya tersebut, permintaan daging akan meningkat dan harga pun akan naik. Pada Hari Raya Idul Adha, kambing yang dijual hidup harus sehat dan tidak cacat. Pasar potensial lain yaitu pedagang sate, gulai, tongseng dan sup kambing.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, Dan Sapi Potong

Hewan Ternak Domba

Domba termasuk hewan ternak yang mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Hewan ini senang hidup berkelompok swsehingga tidak akan memisahkan diri dari kelompoknya saat digembalakan.
Domba cepat berkembang biak, dalam dua tahun induk domba dapat melahirkan anak sebanyak tiga kali dan bisa melahirkan lebih dari dua ekor per kelahiran.
Keuntungan usaha penggemukan domba berasal dari selisih berat badan pada awal program dan berat badan pada akhir program penggemukan.
Selain itu, anakan domba menjadi  aset peternak sebagai penyedia daging, penyedia pupuk, dan sebagai hewan kontes.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Jenis-jenis Hewan Ternak Domba

Berikut jenis-jenis domba:
1. Domba Ekor Tipis
Domba ekor tipis dikenal sebagai domba asli Indonesia serta berkembang di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Domba ini berukuran sangat kecil dan lambat dewasa sehingga dagingnya relatif sedikit. Berat badan domba jantan 30-40 kg dan domba betina 15-20 kg. Warna bulunya putih dominan dengan warna hitam di seputar mata, hidung, dan beberapa bagian tubuh lain.
Domba jantan memiliki tanduk kecil dan melingkar, sedangkan domba betina tidak bertanduk. Keunggulan domba ini adalah sifatnya yang prolifik, karena mampu melahirkan kembar (2-5 ekor setiap kelahiran).

2.  Domba Ekor Gemuk
Domba ekor gemuk berkembang di Jawa Timur, Madura, Sulawesi, dan Lombok. Domba ini beradaptasi dan tumbuh lebih baik di daerah beriklim kering. Bentuk badannya sedikit lebih besar daripada domba lokal lainnya. Berat domba jantan mencapai 45-50 kg, sedangkan domba betina 25-50 kg.
Domba jantan dan betina umumnya tidak bertanduk. Karakteristik domba ini yaitu ekornya panjang, lebar, dan mampu menimbun lemak yang banyak sehingga ekornya menjadi sangat besar. Namun, bagian ujung ekornya mengecil karena di bagian ini tidak terjadi penimbunan lemak. Cadangan lemak di bagian ekor berfungsi sebagai sumber energi pada musim paceklik. Bulu domba ini juga kasar dan gembel.




3.  Domba Garut
Domba garut diperkirakan merupakan hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba merino dari Asia Kecil, dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan. Domba jantan mempunyai berat 60-80 kg, sedangkan betina 30-40 kg. Badan domba garut besar dan lebar, sedangkan lehernya kuat. Karena itu, domba ini sering dijadikan domba aduan. Kulit domba garut merupakan salah satu kulit dengan kualitas terbaik di dunia.
Ciri khas domba garut atau domba priangan jantan adalah memiliki tanduk besar, melengkung ke belakang berbentuk spiral, dan pangkal tanduk kanan dan kiri hampir menyatu. Sementara domba betina tidak memiliki tanduk, panjang telinga sedang, dan terletak di belakang tanduk.


Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Bagaimana Cara Menyeleksi Bibit Domba

Berdasarkan tujuan pemeliharaannya, kriteria pemilihan domba bakalan setidkanya dibagi menjadi dua, yaitu bakalan indukan dan bakalan penggemukan (untuk dipotong). Pemilihan domba untuk penggemukan lebih mudah dan fleksibel dibandingkan dengan domba untuk indukan.




Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih domba bakalan untuk digemukkan.
1. Domba memiliki tubuh yang sehat, lincah, tidak cacat, dan bulunya tidak kusam. Domba yang umurnya masih muda, tetapi terlihat kurus masih dapat dipilih dengan pertimbangan domba masih bisa tumbuh dan berat badanya diharapkan bertambah dengan perlakuan pakan yang lebih baik.
2. Prioritas domba jantan. Hal ini disebabkan, tingkat pertumbuhan domba jantan lebih cepat. Selain itu, adanya larangan pemotongan domba betina yang masih produktif. Namun, tidak tertutup kemungkinan menggemukkan domba betina yang sudah tidak produktif lagi, misalnya domba betina yang mandul (majir) atau sudah tua.
3. Berasal dari jenis domba lokal dan merupakan domba yang sudah beradaptasi dengan lingkungan setempat. Jika domba terpaksa didatangkan dari suatu lokasi yang kondisinya berbeda dengan lokasi penggemukan maka perlu masa adaptasi sekitar 2 – 4 minggu, sehingga membutuhkan dana untuk adaptasi ini.
4. Domba yang akan digemukkan memiliki boboot badan sekitar 15 kg dan berumur 4 bulan – 1 tahun. Untuk mengetahui umur bakalan, peternak bisa melihat catatan domba. Namun, tidak semua hewan ternak memiliki catatan yang lengkap semenjak lahirnya. Karena itu, untuk mengetahui umur domba dapat dilihat dari susunan gigi.


Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Bagaimana Cara Mengetahui Umur Domba

Umumnya orang melihat umur domba dan kambing dari jumlah gigi seri yang sudah tumbuh. Cara penentuan umur domba dan kambing dengan penentuan jumlah gigi seri yang tumbuh tidak selalu tepat. Namun, cara ini dapat memberikan petunjuk yang dapat dipercaya tentang umur ternak tersebut.
1. Gigi susu belum ada yang lepas : Perkiraan umur < 1 tahun
2. Sepasang gigi susu tengah berganti dengan gigi tetap : Perkiraan umur 1 – 1,5 tahun
3. Dua pasang gigi susu tengan berganti dengan gigi tetap : Perkiraan umur 1,5 – 2 tahun
4. Tiga pasang gigi susu berganti dengan gigi tetap : Perkiraan umur 2,3 – 3 tahun
5. Seluruh gigi susu berganti dengan gigi tetap : Perkiraan umur 4 tahun
6. Gigi tetap sudah usang : Umur sudah lanjut

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Persyaratan Teknis Kandang Domba

Pada habitat aslinya domba hidup di alam secara bebas. Aktivitas makan, minum, dan beristirahat dilakukan tanpa kontrol. Karena itu, penempatan domba di dalam kandang perlu perhatian sehubungan dengan kesejahteraan hewan.
1. Lokasi Kandang
Lokasi ideal untuk penggemukan domba adalah daerah yang bercurah hujan 1500 – 3000 mm/tahun dengan kelembapan 60 – 80%. Lokasi topografi yang berbukti bisa menjadi pilihan karena bisa menghambat arah angin. Lokasi kandang sebaiknya berada di areal yang cukup luas, dekat sumber pakan, memiliki sumber air, relatif dekat dari pusat pemasaran, udaranya segar, lingkungan cukup tenang, serta jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk (minimun 10 meter).
Domba sangat peka terhadap perubahan suhu lingkungan. Curah hujan yang terlalu tinggi bisa mengakibatkan gangguan kesehatan pada domba. Sementara itu, suhu tinggi dapat menyebabkan konsumsi pakan menurun sehingga laju pertumbuhan domba juga menurun.
2. Letak dan Arah Kandang
Kandang sebaiknya dibangun dengan menutup bagian-bagian tertentu yang merupakan tempat dominan masuknya angin. Pohon-pohon pelindung perlu ditanam sebagai pemecah angin. Selain itu, sinar matahari pagi diusahakan masuk ke dalam kandang secara langsung.
3. Ukuran Kandang
Pada dasarnya, ukuran kandang yang dibuat bersifat relatif tergantung dari ketersediaan tempat dan bahan. Sebagai contoh, peternak dapat menggunakan patokan 1 : 1,5 untuk kebutuhan luas kandang. Rasio itu menggambarkan untuk 1 ekor domba dibutuhkan luas kandang sebesar 1,5 m2. Karena itu, untuk penggemukan 10 ekor domba dibutuhkan luas kandang sebesar 15 m2. Pembuatan kandang sebaiknya juga memperhitungkan potensi pengembangan.
4. Konstruksi Kandang
a. Atap
Bahan atap yang bisa digunakan cukup beragam, misalnya rumbia, genting asbes atau seng. Untuk kandang yang berlokasi di daerah panas, dianjurkan menggunakan atap yang terbuat dari bahan berdaya serap panas kecil, misalnya genting, asbes atau rumbia. Untuk kandang yang berlokasi di daerah dingin, atapnya disarankan terbuat dari bahan yang berdaya serap panas seperti seng.
b. Tiang Kandang
Tiang kandang umumnya terbuat dari kayu. Kayu tiang yang digunakan dapat menggunakan kayu kaso berukuran 15 x 15 cm. Jika sulit mengadakan kayu kaso, kayu gelondongan pun dapat digunakan asalkan cukup kuat.
c. Dinding Kandang
Dinding kandang bisa menggunakan bahan dari kayu atau bambu. Namun, peternak biasanya membuat dinding kandang dari belahan bambu karena harganya lebih murah. Selain itu, bambu mudah diatur sehingga peternak bisa membuat celah yang berfungsi sebagai jalan sirkulasi udara dari dan ke dalam kandang (ventilasi). Dinding kandang bagian bawah (0,5 – 1 m dari permukaan lantai) sebaiknya dibuat agak rapat dan bagian atas (lebih kurang 2 m dari lantai) tidak perlu terlalu rapat. Hal ini bertujuan untuk memudahkan masuknya cahaya matahari dan sirkulasi udara ke dalam kandang.
d. Alas
Alas kandang bisa terbuat dari bambu, papan, semen, atau tanah saja. Lantai kandang panggung biasanya terbuat dari bilah bambu atau kayu. Jarak antara bilah bambu atau kayu harus disesuaikan agar kaki domba tidak mudah terperosok dan menyebabkan luka. Biasanya jarak antara bambu atau kayu sekitar 1 cm. Jarak tersebut berguna mempermudah pembuangan kotoran langsung ke kolong kandang. Sementara itu, lantai kandang lemprak biasanya terbuat dari tanah atau semen.
e. Jalan (Lorong) Kandang
Jalan atau lorong kandang bisa dibuat di tengah-tengah kandang. Jalan kandang ini sebaiknya dibuat dari bahan semen agar tidak mudah becek. Mengingat fungsi lorong kandang untuk mempermudah pekerja memberi pakan, membersihkan domba, dan membersihkan kandang. Lebar jalan kandang disesuaikan dengan jumlah kandang dan ukuran kandang domba, yaitu sekitar 50 – 100 cm.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Jenis-jenis Kandang Domba

Umumnya kandang domba didesain sebagai kandang koloni, bukan kandang individual. Hal  ini didasarkan pada sifat domba yang senang hidup berkelompok. Namun, berdasarkan tipe alasnya kandang domba dibagi menjadi dua tipe yaitu kandang lemprak dan kandang panggung.
1. Kandang Lemprak
Kandang lemprak dicirikan dengan lantai yang menggunakan tanah sebagai alasnya. Kandang jenis ini hanya beralaskan kotoran dan sisa-sisa hijauan pakan. Selain itu, kandang juga tidak dilengkapi dengan tempat pakan. Kandang hanya dilengkapi keranjang rumput yang diletakkan diatas alas. Pakan sengaja diberikan berlebihan agar menghasilkan kotoran yang banyak. Kotoran akan dibongkar setelah sekitar 1 – 6 bulan.
Lantai kandang lemprak yang terbuat dari tanah tidak dianjurkan karena tidak memenuhi syarat kesehatan. Kotoran domba maupun air minum yang tumpah dapat membuat lantai tanah menjadi basah dan becek. Karena itu, alas yang disarankan untuk kandang lemprak adalah alas yang terbuat dari bahan semen. Agar lantai tidak licin, tekstur semen dibuat agak kasar dengan cara tidak diberi semen penghalus atau memberi corak semen dengan batang lidi. Lantai juga perlu dibuat miring ke satu arah untuk memudahkan pembuangan kotoran dan mencegah genangan air.
Dalam beternak domba secara intensif, kandang ini jarang digunakan karena pembersihannya lebih merepotkan. Kandang lemprak biasanya digunakan para peternak domba pada skala kecil dengan jumlah domba yang tidak terlalu banyak.
2. Kandang Panggung
Kandang panggung dicirikan dengan adanya tiang penyangga kandang sehingga lantai kandang terletak diatas tanah (sekitar 0,5 – 1m) dan berbentuk seperti panggung. Bahan lantai biasanya terbuat dari bilah bambu, kayu, atau papan. Tipe kandang ini memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran. Lantai kolong biasanya diberi semen dan dibuat miring ke arah selokan agar lebih memudahkan pekerja ketika membersihkan kotoran.
Meskipun pembuatan kandang panggung lebih mahal, tetapi kebersihan lantai kandang ini lebih terjamin. Hal ini disebabkan, lantai kayu atau bilah bambu dipasang dengan sedikit celah sehingga memudahkan kotoran terjatuh ke bawah kandangg. Selain itu, domba terhhindar dari serangan penyakit dan parasit karena kandang lebih mudah dibersihkan. Oleh karena itu, kandang panggung banyak digunakan pada peternakan domba dengan pola intensif.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong

Kadar Dan Tata Cara Pemberian Pakan Pada Domba

Pemberian pakan hijauan dalam keadaan segar umumnya lebih disukai dalam keadaan layu atau kering. Namun, terdapat beberapa jenis hijauan yang masih mengandung racun dan sangat berbahaya jika diberikan dalam keadaan segar, misalnya daun singkong (racun sianida), lamtoro (mimosin), dan gliricidae (tanin). Karena itu, pakan hijauan tersebut harus dilayukan terlebih dahulu selama 2-3 jam di bawah terik matahari. Hijauan tersebut juga bisa didiamkan selama semalaman sebelum diberikan kepada domba.
Jumlah pakan hijauan segar yang diberikan pada domba dewasa, rata-rata adalah 10% dari berat badan atau sekitar 4-5 kg/ekor/hari. Pakan ini diberikan 2-3 kali sehari (pada pagi dan sore hari). Pakan konsentrat diberikan sebelum pakan hijauan. Hal tersebut dilakukan agar semua zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan, produksi, dan reproduksi dapat terpenuhi.
Berikut Beberapa Cara Mengefisienkan Penggunaan Bahan Pakan :
1. Mencincang Hijauan
Hijauan yang dicincang 5-10 cm akan lebih mudah dikonsumsi oleh domba karena bentuknya yang kecil-kecil.
2. Pemberian Urea Molasses Block (UMB)
Urea molasses block (UMB) mengandung urea, dedak padi, tepung tapioka, bungkil kedelai, serta beberapa mineral seperti garam, tepung tulang, dan kapur. Pemberian UMB sebesar 4 gram /hari/kg berat badan harian domba mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian domba. Di samping itu, mampu meningkatkan daya serap pakan berserat kasar cukup tinggi, seperti kulit dan tongkol jagung.
3. Pemberian Urea
Urea merupakan bahan potensial yang mengandung non-protein nitrogen (NPN). Di dalam rumen, NPN dapat dicerna menjadi NH3 yang merupakan bahan pembentuk protein. Namun, penggunaan urea perlu dibatasi tidak lebih dari 1% dari bahan kering hijauan atau tidak lebih dari 2% konsentrat. Selain itu, pemberian urea juga harus diimbangi dengan pemberian bahan pakan sumber energi.

Sumber: Buku Petunjuk Praktis Menggemukkan Domba, Kambing, dan Sapi Potong